>08: Dilema masuk ke perguruan tinggi

Sejak duduk di bangku XI aku tahu nol tentang proses dan seluk-beluk tentang masuk perguruan tinggi.

Setelah semua kejadian ini, aku ingin membagikan apa yang kutahu, mungkin bisa membantu bagi siapapun yang ingin masuk namun kuliah tapi takut karena masih belum familiar.

SNMPTN

Seleksi Nilai Masuk Perguruan Tinggi Nasional

Ini adalah penjaringan pertama untuk masuk perguruan tinggi negeri yang kadang dianggap sepele teman-teman.

Penjaringan SNMPTN itu memakai nilai rapor ditambah sertifikat kejuaraan baik akademik dan non-akademik, sehingga tidak perlu mengadakan tes.

Yang menjadi ironi adalah hanya sekian persen (bergantung akreditasi) siswa dari setiap sekolah yang boleh ikut, dan penjaringannya diluar pihak sekolah.

Yang beruntung lalu mengisi biodata dan tujuan perguruan tinggi, lalu mengisi data pelengkap seperti prestasi (kalau ada) dan porfotolio (kalau milih prodi seni).

Hal yang menarik (dan merepotkan) adalah saat memilih perguruan tinggi (dan program studi). Setiap siswa bisa memilih dua perguruan tinggi yang berbeda, dan berharap salah satunya bisa masuk.

Memilih perguruan tinggi yang tepat itu seperti memilih hidup atau mati. Jangan heran kalau nantinya banyak nilai rapor yang dirubah. Selain itu juga ada strategi unik untuk meningkatkan kemungkinan bisa diterima melalui jalur ini.

Beberapa guru kami mengatakan kalau kita mengincar prodi yang sulit, maka pilih saja kampus yang mudah (tidak begitu popular). Begitu pula sebaliknya.
Kalau masih bersihkeras, taruh kampus yang levelnya lebih ringan di bagian pertama, sedangkan yang sulit dibagian kedua karena kebanyakan kampus tidak suka di nomor duakan.

Beberapa siswa yang optimistis (seperti saya) tetap ingin memilih kampus favorit di prodi/jurusan yang diinginkan.

Karena aku punya sertifikat kejuaraan non-akademik provinsi (bahkan nasional), aku yakin pilihan saya pasti diterima meskipun aku juga mengaku pilihannya memang berat-berat.

Saat pengumuman tiba, kau tahu bagaimana hasilnya?

Screenshot (283)

Aku dan teman-teman tak percaya akan hal itu. Aku merasa kecewa dan dibuang, namun tak bisa berbuat apa-apa.

Satu hal yang baru kusadari adalah jalur ini hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup. Jadi aku harus move-on …

SBMPTN

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Nasional

Selepas pengumuman SNMPTN bagi siswa yang tidak diterima disana langsung daftar lewat jalur ini. ada biaya yang harus dibayar sebelum masuk melewati jalur ini (kecuali yang ikut Bidikmisi), karena jalur ini merupakan jalur masuk melewati tes, namun serentak untuk seluruh perguruan tinggi negeri se-Indonesia.

Ada 3 jenis tes yang harus dilewati, yaitu tes akademik, tes olahraga (bagi calon yang milih prodi olahraga), dan tes seni (bagi calon yang milih prodi seni).

Ada dua materi yang diuji dalam tes akademik, yaitu TKD (Tes kompetensi dasar), yang bergantung dari program mana yang dipilih: SAINTEK (IPA) atau SOSHUM (IPS), dan TPA (Tes potensi akademik) , yang mirip seperti tes psikologi.

Lebih fleksibel dari SNMPTN, SBMPTN bisa memilih 3 kampus negeri yang berbeda. Hampir semua teman-teman saya tahu kalau memilih kampus itu berdasarkan urutan:

(1) kampus top yang mungkin menerima, (2) kampus standar yang optimis bisa masuk, (3) kampus non-popular yang gak mungkin kamu tidak diterima.

Bagi siswa yang optimistis (dan gegabah seperti saya) tetap bersihkeras untuk memilih kampus yang diinginkan, dan kampus lainnya yang sebanding derajatnya.

Aku berharap dengan belajar kedepan selama setengah bulan bisa cukup untuk membuahkan jaringan masuk.

Namun hal seperti itu masih terjadi.

Saat kamu tidak lolos SBMPTN, tak ada pilihan lain selain masuk kampus melalui jalur mandiri atau menunggu setahun lagi hanya untuk mengulang SBMPTN dengan pilihan yang lebih realistis.

Mandiri

Seleksi Mandiri.

Seleksi ini adalah jalur terakhir bagi orang-orang yang masih bersihkeras ingin masuk perguruan tinggi bagaimanapun caranya.

Jenis seleksi ini tergantung kampus mana yang ingin kamu ikuti. Sebagian besar jalur mandiri tetap menggunakan Tes. Ingat tidak semua Perguruan tinggi menyediakan jalur ini.

Jangan pandang sebelah mata jalur yang satu ini, karena orang-orang berkata masuk mandiri itu biayanya mahal. Tapi tahukah kamu dimana dan berapa letak biaya “mahal” itu?

Jika anda hanya tahu pada biaya tes masuknya saja, anda keliru besar. Semua kampus negeri sekarang memakai UKT (Uang kuliah tunggal) yaitu biaya yang dibayarkan tiap semester dan tiap orang diterapkan berbeda bergantung “tingkat” kesanggupannya.

UKT diterapkan pada siapapun tidak peduli kamu masuk melalui jalur yang mana (khusus kecuali yang Bidikmisi atau dapat beasiswa). Inilah mengapa semua kampus mempunyai tingkatan biaya per-semester yang berbeda.

Tapi bagi yang belum tahu (tidak menyempatkan untuk cek biaya pendidikan) bakal kaget dimana letak kemahalan jalur mandiri.

Utamanya, hampir semua perguruan tinggi negeri pasti menempatkan biaya UKT ke tingkat paling mahal pada siapapun yang masuk lewat mandiri. Jadi misalkan kamu mestinya berada ditingkatan 1 sampai 3 juta, maka tetap saja kamu berakhir membayar 4, 5 bahkan sampai 8 juta, per semester.

Yang membuat orang tua anda mikir-mikir itu bukan karena UKT yang menunggak, melainkan biaya daftar ulang yang cukup menggila.

Tiap universitas mempunyai istilah yang berbeda untuk yang satu ini, tapi semuanya tetap dituju pada semua siswa yang lolos seleksi mandiri.

Intinya khusus yang melewati jalur mandiri dikenakan biaya tambahan, yang tentu tiap perguruan berbeda, dari 15, 25, 30, 40 bahkan 50 juta, dan itu harus dibayarkan lunas saat daftar ulang.

Banyak orang (seperti saya) baru menyadari akan hal ini selepas tidak lolos SBMPTN. Dan tentu saja, bermimpi dan berharap bisa memutar waktu kebelakang.

Di akhir kata, aku menyimpulkan bahwa sejak di tahap ini, kuliah di perguruan negeri bakal sebanding sama perguruan tinggi swasta. Dipenghitunganku aku bisa menyelamatkan 75% hinggaa 90% uang yang hilang ke biaya pendidikan andaikata saja aku masuk lewat jalur nasional.

Spekulasi

Ada beberapa teori yang mungkin menjawab keanehan dibalik diterima atau tidaknya seseorang melalui jalur nasional.

Contohnya saja aku dan temanku (yang menempati sekolah yang berbeda) sama-sama mendaftar ke ITB melalui jalur SNMPTN.

Dia tidak mencamtumkan sertifikat apapun, namun setelah pengumuman, justru temanku itu lolos ke ITB.

Dia berkata padaku, “Tahun lalu cuma ada satu yang lolos ke ITB, sekarang ada tiga”.
Dari sini aku memandang lagi alumni saya tahun lalu.

Yap, terkonfirmasi. Tak satupun kakak-kakaku berani dan lolos ke ITB.

Saat SBMPTN itupun aku masih optimis bakal masuk. Pilihan yang ketiga adalah Undip, yang menurutku cukup mudah untuk dibobol.

Yang tak kusadari adalah bagaimana ekstrimnya prodi yang kupilih. Semua prodi yang kupilih adalah Teknik Informatika, dan berdasarkan statistik, TI adalah prodi yang sangat diincar dan sangat sulit untuk dibobol setelah Kedokteran.

Sejak itu aku berharap untuk lebih mendengarkan statisktik lebih serius lagi.

Kesimpulan

Orang tua dan aku sudah positif untuk mengistirahatkanku sejenak selama setahun.
Aku tidak menyesal, karena libur atau tidak aku selalu sibuk dirumah.

Aku menulis bagaimana hype dan anti-klimaks keluarga saya setelah tahu aku tidak lolos SBMPTN.

Dan di waktu mendatang, aku ingin menulis bagaimana hidupku setelah libur selama 365 hari.

 


NB: Ada beberapa jalur nasional lain: SPAN-PTKIN, UM-PTKIN, PMDK namun aku tidak terlalu tahu bagaimana seluk-beluk apalagi prosesnya secara detail.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: