@13: Bangkit Kembali

Day 2

Entah mengapa ayaku ingin pergi ke rumah mbah di Gresik. Kami sekeluarga berangkat agak siang dan sampai pada waktu Ashar.

P_20170615_113714
Otw Gresik

Perjalanan kali ini sedikit unik, karena ditengah perjalanan satu ban mobil belakang sempat bocor.

“Pak. Pak. Pak.” (mungkin) begitu seorang pemuda berseragam sekolah menyalip mobil kami. Dan keduanya berhenti.

Saat itu aku sadar mobilnya berhenti. Dia menghampiri kami “Pak, ban belakange bocor”, lalu pergi kemudian.

Kami sekeluarga turun dan melihat, “eh.. Benar bannya bocor”.
Anehnya, satu keluarga, bahkan aku sendiri yang duduk dibelakang tidak terasa sama sekali.

Untungnya saja ada ban cadangan yang menempel dibawah mobil.
“Alhamdulilah, bannya masih keras” kata ayahku.

Pasang dongkrak. Lepas ban. Pasang lagi.

Ban yang bocor itu kemudian ditaruh di kursi belakang.
Hal yang aneh adalah bannya terasa hangat, jadinya duduk diatas ban itu terasa.. anget.

Melanjutkan perjalanan, ayah mencari tambal mobil terdekat dan segera menambal ban bocor tadi.

Hmm. Entah mengapa ban itu dipasang lagi. Katanya sih beda sama ban sepeda biasa. Aku tidak tahu, dan hanya spekulasi saja.

Dan sesampainya di tujuan. Aku segera bersalaman dan memindahkan barang.


Skip hingga beberapa jam, aku bersama sepupu saya dikamar, ingin cek sesuatu yang biasa dia nanti-nanti: koleksi film.
Di tempat yang lain ada abah (kakekku) duduk bersama ayah berbincang sesuatu di ruang tamu. Aku bisa melihatnya dari kamar.
Entah karena sesuatu aku lalu keluar dari kamar, mengelilingi rumah mencari udara segar.
Namun saat melewai ruang tamu, “Wil, kamu masuk di ITS?” ditanya abah. Kujawab dengan tenang “Boten” (tidak).
“Lho, terus Semarang? Jogja?”. Kujawab dengan jawaban yang sama. Setelah itu diteruskan oleh ayahku “Wildan masih libur dulu”.
Aku ingin mendengar lanjutannya namun aku disaut sepupu jadi aku kembali kekamar. Kembali lagi topik perbincangannya sudah berganti.

No problem.

Disaat adzan magrib aku berbuka dengan makanan khas gresik, makanan laut (udang). Emang nikmat. Sudah lama tidak makan udang.
Setelah itu shalat tarawih di masjid besar disana, entah padahal baru dua minggu ditinggal sudah kangen shalat disana.

Setelah selesai aku pergi kekamar mengerjakan yang biasa kukerjakan. Sayangnya sinyal internet agak terganggu jadinya kau terlelap dengan cepat.

Day 3

Aku pikir kami langsung kembali setelah sahur, tahu-tahunya menunggu sampai siang (menunggu shalat jum’at).

“Buk, aku punya acara nanti sore bukber sama teman-teman” kataku pada ibu.
Ibu memberitahu pada ayah sehingga tidak jadi menunggu sampai siang.

Jam 9 kami berkemas-kemas dan pamitan. Eh ternyata dibawakan pepaya, pisang, ikan …. entah lupa namanya.

Selama 4 jam perjalanan aku tidur selama 3 jam di kursi belakang hingga sampai di depan rumah.

Sesampainya dirumah pada waktu tepat dzuhur sehingga langsung bergegas menuju ke masjid.

Ada sawah yang membentang didepan rumahku. Sembari bersepeda menuju kemasjid aku melihat pemandangan sawah itu. Anehnya sih, aku baru sadar kalau sawah itu sudah lebat dan banyak padinya.

Selepas dari masjid aku membereskan barangku dari mobil dan beristirahat sejenak di kamar.

Untungnya aku tak merasa ngantuk sehingga aku bisa melanjutkan apa yang kulakukan selama yang lain beristirahat.

Skip hingga Ashar aku mempersiapkan diriku untuk acara bukber bersama teman-teman Alumni MI saya. Aku berangkat sekitar 16.30 dengan sepeda motor.
Tujuan pertama tidak langsung ke TKP, namun mangkir ke rumah teman yang alumni terdekat.
Selagi dia mempersiapkan diri aku sengaja memotret rumah tua tak berpenghuni yang berada tepat disampingnya, mungkin bagus untuk sampul artikel saya nanti.

Setelah dia siap kami berboncengan menuju tempat teman-teman berkumpul. Kemudian dia turun dan aku cabut untuk menemui salah satu teman yang request untuk ditemput.
Temanku yang satu ini spesial. Kami tak bertemu selama entah berapa tahun dan masih punya selera IT yang sama denganku. Aku disambut hangat dengannya.
Dia bersiap-siap dan keluar memakai sepeda. Hmm.. entah mengapa dia tak mau dibonceng tapi tak mau merusak suasana dengan bertanya. Kami berdua lalu ketempat teman-teman berkumpul, lalu semuanya pergi ke TKP.

Tempat TKP itu tidak jauh, sekitar lima menit dengan sepeda motor. Itu adalah tempat restoran yang kebetulan milik orangtuanya alumni seangkatan saya.
Tak perlu tanya, ada banyak makanan dan minuman (es) disana. Banyak teman saya menunggu waktu magrib diluar jadi aku juga ikut-ikutan.

Berbicara tentang teman-teman wajah mereka tidak banyak berubah. Entah mungkin karena sudah sering bertemu dijalan atau hal yang lain, terkecuali untuk beberapa teman perempuan yang memang gak pernah ketemu bertahun-tahun, bahkan butuh beberapa waktu untuk ingat siapa dia.

Untuk nama meskipun aku super-pelupa untuk mengingat sebuah nama, aku masih ingat semua nama teman yang hadir di memori kepala saya karena 6 tahun bertemu setiap hari disekolah itu sudah cukup lama untuk mengingat-ingat sebuah nama.

Beberapa dari mereka bertanya “jadi kuliah dimana?”. Kujawab dengan berbagai jawaban yang berbeda: “di rumah”, “menyusul”, “menunggu kamu”, “lagi istirahat”, dsb. Bagiku yang penting singkat dan tidak merusak suasana. Aku bangga berkata “Aku pernah meloncat sekolah setahun, dan sekarang gue ambil lagi jadinya kuliahmu bisa bareng bersama gue”.

Selepas adzan magrib aku puaskan makanku. Beberapa temanku kaget karena aku ngambilnya dua kali porsi daripada yang lain. Hah, gue suka diriku karena meskipun makan banyak tapi tubuh gak pernah kelihatan gemuk.

Ditutup dengan es campur sambil menunggu giliran yang sholat, lalu berfoto bareng sampai gak terasa waktunya tarawih.

P_20170616_184555
Aku disebelah kiri, berbaju putih.

“Rek, muleh sek ya!” Aku dan beberapa teman cabut pulang duluan karena udah waktunya isya’ namun tetap saja masih belum bubar.

Aku berhenti di masjid dekat rumah dan shalat isya’ dan tarawih. Aku gak boleh kelewatan karena tarawih bagiku obatnya kenyang, gerak terus sampai setengah jam.

Setelah pulang aku balik lagi kekamar. Sekali lagi aku belum merasa mengantuk. Aku melihat kamarku lumayan kotor jadinya aku mau renovasi kamar dulu.

Sembari menunggu laptop saya menginstal ulang (upgrade) aku bersihkan atap dan karpet. Tidak, kamarku itu kecil sehingga aku tidak butuh kasur.

Setelah memasang dua laptop dikamar aku putuskan untuk pasang tiga meja mini. Untungnya tidak ada satupun adikku yang memakainya.

Jam 9 renovasi selesai dan adikku terlelap tidur. Aku rehat saja dengan membaca di internet… sampai tengah malam.

Day 4

Aku nyaris tidak sahur. Mataku berat untuk terbangun.

Setelah sahur Kulanjutkan dengan tidur (lagi) hingga hampir jam 7, karena jam 7 aku punya event lagi dengan temanku.
Jam 7.30 aku berangkat ke temanku (satu kelas MA). Rumahnya jauh sekitar 7 km sehingga butuh sekitar 15 menit untuk sampai menggunakan sepeda motor.
Aku langsung disambut saat aku menggapai didepan pintunya dan langsung menuju kekamar karena ada ada saudaranya yang berkunjung diwaktu yang sama.
“Bad Timing” aku berkata dibenakku. Untungnya mereka mau pamit jadinya aku tidak terpaku terus didalam kamarnya.
Setelah semuaya terdengar sepi temanku menghampiriku dan kami membicarakan banyak hal.

Pertama, dia diterima di ITS prodi Fisika jalur SBMPTN. Aku sudah mengucapkan selamat padanya.
Kami juga membicarakan teman-teman yang lain, bagaimana dan dimana mereka melanjutkan jenjang pendidikan tingginya.
Beberapa diantaranya masuk di Unair “Farmasi” padahal kami juga gak pernah nyangka dia emang suka sama kimia. Ada juga mereka yang tidak lolos SBM masih “selamat” karena menyisipkan UIN dipilihan terakhir, dan sebagainya.
Temanku sendiri berkata meskipun dia masuk di pilihan pertama, dia masih ingin ikut SBM lagi tahun depan karena dia sebenarnya ingin masuk di ITS prodi Teknik Fisika.

“Serius bro?”

Skip beberapa menit dia menyindir sedikit tentang laptopnya. Katanya harddisk laptopnya tak berfungsi.

“Sini coba aku cek”. Aku mengetes, dan benar apa yang ia kata. Laptopnya nyala namun gak mampu booting (munculkan Windows). Aku coba boot lewat USB dan… masih berfungsi.

Kesimpulan #1 Laptopnya nggak problem. “Mungkin kabelnya putus?” kami berdua memikirkan hal yang sama jadi dia bongkar dan mencopot & masukkan harddisk.

Lalu kami punya ide untuk mencoba dengan HDD laptop lain. Entah aku lupa bagaimana kami punya ide itu namun hal itu membuat dia mengorbankan satu laptop dia yang lain.

“Wow. Wow. Wow. Bung itu laptop kan masih bisa dipake’?”, dia jawab “Ya, tapi chargernya rusak dan kipasnya berisik”. Lalu dia mulai operasi transplantasi Harddisk.

P_20170617_095323

Sempat ada kesulitan saat membongkar, namun itu masalah kecil. Dia kata pernah membongkar laptopnya dan aku pernah… setidaknya melihat ayahku yang membongkar laptop.

.. Dan hipotesisnya benar. Laptopnya berfungsi normal sekarang. Aku cek laptopnya dan bersiap untuk menginstal ulang.

Btw, sejak 5 tahun lalu itu laptop itu selalu menjadi andalannya, namun entah dua tahun kemudian laptop itu tidak bisa dipakai hingga sekarang. Dia berkata “Kalau kau tidak disini mungkin ini laptop nggak saya bongkar”… aku merasa seperti hero…

Sambil menunggu proses instal ulang selesai temanku yang lain datang. Btw dia diterima di ITB Bandung melalui SNMPTN. Dulu kami bertiga satu kelas MTs bersama.

Dia dulu juara 1 di kelas, dan perhatian banget. Segera setelah dia tahu aku tidak kemana-mana dia terus merekomendasi perguruan mana yang harusnya aku daftar sekarang. Dia bahkan memberiku e-book yang lumayan banyak halamannya.

“Thanks bro, gue tetap suka jalan yang kupilih” dibenakku tanpa merusak suasana.

Skip lagi beberapa menit, tuan rumah membawa laptop yang lain + stick PS untuk main PES (semacam game sepakbola).
“No problem, kau duluan”. Aku sangat jarang main PES, gak pernah nonton tayangan sepakbola apalagi main sepakbola.

Game berjalan hingga beberapa jam jadi aku gak punya kesempatan menghindar. Saat aku diberi kesempatan aku di beritahu beberapa trik.

Jangan tanya aku. Aku sejak dulu kalau disuruh main PES aku tekan semua tombol sekaligus. Temanku dengan sabar menjelaskannya. Aku bermain lebih baik sekarang meskipun masih belum pernah mencetak gawang. “Jangan main sama Wildan, susah sekali bobol gawangnya”, ya iyalah namanya orang panik semuanya kutombol sekaligus!

Kami bermain hingga ashar, dan pulang setengah 5. Di sisa hariku kuisi dengan membaca artikel dan menyelesaikan apa yang kukerjakan. Sebenarnya aku pegal dan ingin tidur namun… ini masih ramadhan, nggak boleh tidur sebelum tarawih.

 


.. dan artikel dengan +1500 kata ini ditulis pada hari ke-5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: