>10: Universify Yourself

Aku akan libur setahun penuh untuk absen dari alur menuju jenjang pendidikan tinggi, namun itu bukan berarti aku akan berhenti belajar dan mendidik diriku sendiri.

Untuk itulah aku mempersiapkan sebuah konsep, dimana aku belajar sepenuhnya secara mandiri, otodidak, dimanapun, kapanpun, secara fleksibel tanpa ada unsur pemaksaan (atau sistem belajar ini akan sama bosannya dengan pelajaran di kelas)

Sudah beberapa tahun aku menerapkan konsep ini namun belum pernah aku mampu mendeskripsikannya secara konkret hingga sekarang.

Konsep ini bisa dibilang cocok untukku karena hasilnya aku tak pernah kosong soal mengisi waktu luang, dan aku yakin ini berguna bagi anda juga. Meskipun demikian aku tetap memperingatkan, konsep ini mungkin terlalu gila atau berpotensi memunculkan konspirasi, sehingga aku ingin menjabarkannya secara panjang lebar kedalam artikel +3000 kata ini.

NB: Artikel ini benar-benar panjang bahkan aku sarankan anda memaca versi PDF-nya saja disini.

Tanpa basa-basi lagi, inilah poin-poin yang membuat konsep ini berbeda dari sistem pendidikan secara umumnya:

Kurikulum (Topik/Skill)

Tidak, aku tidak ingin kembali ke zaman sekolah lagi mempelajari hal-hal yang terlalu abstrak dan dipertanyakan penggunaannya.

Aku buat kurikulumku sendiri. Aku pilih topik yang aku sukai. Aku pelajari skill yang kuanggap menarik.

Untuk sebuah demonstrasi, sudah lama aku sering (bahkan bagian dari hobi) berada didepan laptop, mengutak-atik software, atau yang biasa disebut sebagai Programming.

 

Programming in action

 

Itu berarti untuk waktu kedepannya aku harus menajamkan skill Programming dan belajar apapun dan darimanapun yang membantu mengembangkan skill ini, karena untuk sisa dari hidupku aku akan bawa skill ini hingga level profesional, bahkan membuat penghidupan dari hobi ini.

Untuk anda, pilihlah skill apapun yang anda suka, yang membuat semangatmu bangkit, setiap hari. Kau tak perlu takut gagal, yang penting tetap diasah. Bahkan, aku dulu tak menduga kalau hobi yang iseng ini bisa menghidupi karirku di programming.

Selain satu skill untuk karir, sebaiknya juga dilengkapi dengan beberapa skill tambahan sebagai pelengkap hidup, yang mampu membuat kualitas hidup bertambah, atau penunjang karir, atau sebagai hiburan semata. Untuk saya itu berarti skill:

  • menulis (karena aku punya blog)
  • fotografi (meski amatiran karena belum punya DSLR)
  • marketing (karena aku ingin berbisnis secara mandiri)
  • produktivitas (waktu bagiku itu sangat berharga)
  • reparasi laptop (benci menunggu tukang servis laptop)
  • bahasa inggris (karena >90% internet berbahasa inggris)
  • memasak (masih nol tapi serius ingin belajar) dan …
  • tidur (percayalah karena mengatur jadwal tidur itu cukup susah).

Dari semua itu, aku hanya membawa satu skill menuju level karir, karena untuk mengangkat sebuah hobi menjadi karir, diperlukan dedikasi dan ketekunan untuk hobi itu sendiri sebanyak mungkin hingga melampaui kemampuan rata-rata orang banyak, termasuk tahu bagaimana menjual hasil produk/layanan dari skill tersebut.

Jika hanya ada satu kalimat yang bisa kamu ambil dari artikel ini, maka itu adalah jawaban dari pertanyaan ini:

“Apa gerangan yang pernah membuat dirimu bersemangat membara hingga jantungmu berdetak kencang saat melakukannya?”

SKS (Bacaan)

Sistem edukasi di Amerika tidak berubah selama 2 abad dan perubahan kurikulum di indonesia kebanyakan hanya merubah urutan materi.

Untuk satu hal, sekolah membenarkan satu hal, yakni buku adalah sumber pengetahuan. Namun menggunakan buku yang sama selama satu tahun? Itu adalah diskriminasi.

Mari kita bicarakan sebuah fakta. Rata-rata 12 buku bisa ditebas dalam setahun oleh seorang kutu buku, sedang top CEO, Leader, Inspirator dunia rata-rata membaca 4-5 buku dalam satu bulan, dan itu lebih dari 4.000.000 kata!

Percayalah, bahwa tak ada orang sukses tanpa membaca buku. Buku memang berat karena dunia sang penulis berada didalamnya. Beberapa orang mengganggap bahwa kebiasaan membaca seharusnya dibiasakan seperti bernafas. Bahkan Wright bersaudara diberi pilihan untuk tidak mendaftar kuliah karena ayahnya sudah menyediakan rak dipenuhi oleh buku di rumahnya.

BooksOfSahanaStrike_quora.com
Buku. Buku. Buku. Aku ingin membaca buku.

Sayangnya, aku belum pernah menemukan perpustakaan umum ditempatku, sehingga setiap hari aku hanya membaca artikel internet. Meskipun demikian aku sangat bersyukur, karena meskipun baru 7 bulan aku rutin membaca (dan membangun blog ini) pola keseharianku berubah secara drastis, bahkan aku berani untuk tidak kuliah terlebih dahulu setahun, hanya untuk mencari tahu kalau hipotesis yang aku yakini benar-benar bisa mengubah hidupku menjadi lebih baik.

 

Screenshot_20170707-231824
Paling tidak aku sudah siapkan bahan bacaan di handphone

 

Jika kamu masih bertanya mengapa membaca 20 buku setahun itu menurutku belum cukup maka aku harus bertanya kembali: Bayangkan jika setiap buku itu berisikan pelajaran dari perjalanan seumur hidup mereka, bukankah itu berarti aku mencegah diriku mengulangi kesalahan yang sama untuk 999 tahun berikutnya?

Lagipula, aku tak bisa menggunakan Google untuk mencari sesuatu yang bahkan aku belum pernah mendengarkannya. Yang aku bisa lakukan hanyalah terus mencari ide tersirat dari setiap bacaan yang kubaca. Setiap hari aku baca apapun yang berkaitan dengan skill diatas.

Aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya membaca buku topseller kecuali menemukannya di perpustakaan (rangkuman) buku online yang gratis dan itu cukup membuatku merasa hidup kembali…

Ujian (Penguasaan Skill)

Ujian adalah alasan utama mengapa sekolah tidak bisa dianggap remeh. Aku tahu 99% siswa (bahkan beberapa guru) benci dengan ujian, namun tradisi ini tetap saja dilanjutkan (mari abaikan sistem rapor dulu).

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan why (tujuan) dari ujian. Yang masalah adalah how (proses) dari ujian itu sendiri, karena kau tahu, 100% ujian dikerjakan dalam kertas, bermodel pilihan ganda atau isian, tidak peduli jenis pelajaran apa, dan bagiku itu … sangat absurd.

Yang membuatku frustasi sebagai siswa, adalah yang pertama, yakni selama ujian, siswa tidak boleh membuka catatan. Alhasil, siswa harus menghafal rumus & istilah seluruh materi, suatu proses yang membuatku paling tidak nyaman. Pertanyaan sekarang adalah, mengapa? Mengapa harus dihafalkan?

Ada alasan mengapa Google hadir dimanapun internet berada. Lagipula, otak kita didesain untuk berubah setiap hari sehingga kita mampu berpikir kreatif. Sebaliknya, otak robot (komputer) selalu tetap tidak berubah sehingga mereka tidak bisa kreatif namun juara kalau soal memorisasi (menghafalkan/menyimpan data).

Singkatnya, otak sering menolak kalau kita suruh dia menghafalkan sesuatu. Saat kita bangun tidur >95% memori tentang hari kemarin akan terlupakan karena kabel otak (memori jangka pendek) sudah berganti alamat.

Pada umumnya, menghafalkan adalah usaha yang sia-sia, kecuali jika sudah bagian dari hobi/kebiasaan sehari-hari (memori jangka panjang). Dan untuk itulah, Google (atau Textbook lain) selalu ada untuk mengingat kembali memori jangka pendek yang hilang.

Untuk itulah, semua programmer (termasuk saya) tak pernah menghafal syntax/tulisan disetiap kata di script. Setiap saat aku ingin software melakukan X atau merubah Y aku selalu membuka buku panduan/referensi untuk syntax tertentu, beberapa kali hingga aku hafal sendiri syntaxnya diluar kepala.

 

Screenshot (464)
Semua programmer harus tahu +1000 macam fungsi, namun apakah mereka menghafalkannya?

 

Ini juga berlaku untuk matematika, dan skill yang lain. Kita hanya perlu menggunakan rumus berkali-kali hingga hafal sendiri diluar kepala dengan sendirinya. Untuk beberapa rumus lain yang jarang digunakan biarkan saja dulu hingga benar-benar kita gunakan sesering mungkin.

Dalam beberapa waktu kedepan, saat hampir semua basis konsep telah dikuasai diluar kepala, maka anda hanya memerlukan bagian “kreatif”-nya saja, seperti saya, yang sudah 7 tahun terbiasa menekuni programming. Hingga sekarang aku tak perlu membuka referensi untuk keyword dasar, sehingga lebih banyak waktu untuk bagian “kreatif” dalam membuat software, bagian yang membuat programming jauh lebih menyenangkan.

 

P_20170616_093154
+7 tahun dan masih enjoy programming

 

Itu “bagaimana” aku menajamkan skill-ku, dan mereka yang jago matematika, piano, sepakbola mungkin akan menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sama:

Kuasai sebuah teknik dengan “melakukan”, dan tetap berusaha sampai terasa “menyenangkan”.

PR (Projek)

Kembali ke masalah ujian. Akankah sistem ujian diatas kertas berbentuk pilihan ganda/isian masih relevan?

Terkecuali untuk skill Matematika, semuanya 99% tidak akan relevan, karena hanya dengan “melakukan” sebuah soal mampu secara utuh terjawab, sebuah skill mampu diasah.

Pikirkan lagi, akankah bagus untukku mempelajari setiap formasi sepakbola, sedangkan aku sendiri tak pernah main sepakbola? Jika tidak, maka mengapa menjawab soal olahraga dengan kertas seperti ini masih keluar?

Jika topik dirubah ke sesuai yang aku suka, maka argumenku mengapa harus “dihafalkan” akan terulang lagi.

Karena itulah aku merubah sistem ujian, sehingga daripada menjawab diatas kertas, aku menjawabnya dengan “melakukan”-nya. Aku melakukannya dengan membuat sebuah projek.

Sebuah projek dibuat untuk mencapai maksud tertentu, dan disini dimaksudkan untuk menjawab sebuah pertanyaan. Contohnya, seperti pertanyaan programming ini (hiraukan makna konteksnya):

“Bagaimana cara meng-sinkronisasi data Clipboard dua/lebih komputer di Jaringan yang sama (LAN)?”

Pertanyaan ini membuatku membangun project baru. Dalam prosesnya, aku akan belajar topik baru TCP/Net socket, dan pada akhirnya project itu selesai dan produk dari project itu aku bagikan secara cuma-cuma andaikata ada yang ingin belajar bagaimana aku melakukannya… dalam 3 hari (dan banyak hal baru yang sudah kupelajari meskipun singkat).

 

Screenshot (460)
Projek Socket-Clipboard in action

 

Itulah caraku berimprovisasi. Untuk yang lain mungkin pertanyaannya seperti “Bagaimana pengaturan pencahayaan 3-poin?” pada fotografi, “Apakah telur bisa dicampur dengan jamur?” pada kuliner, “Bagaimana reaksi masnyarakat kalau kita jual produk X?” pada distribusi, dsb.

Untuk mengasah skill, aku perlu sebuah projek. Untuk memulai projek, aku perlu sebuah pertanyaan. Untuk memunculkan sebuah pertanyaan, aku perlu sebuah ide. Kebanyakan Ide bisa dimunculkan dengan membaca, atau memandang fenomena atau masalah disekitar kita, atau situasi lainnya.

Sebuah projek harusnya berakhir pada sebuah produk. Untuk programmer ia adalah software, Untuk peneliti sains ia adalah karya tulis ilmiah, Untuk fotografer adalah foto, resep dari seorang koki, nota lagu dari seorang komposer, strategi baru dari seorang atlet, rangkaian motherboard dari seorang elektrisi, komik dari komikus, dsb.

Jika sebuah produk/karya dari project itu anda publikasikan, maka “kertas” hasil jerih payah anda tidak akan sia-sia, bahkan membantu anda dan sesama komunitas lainnya. Jika dimungkinkan, ada baiknya untuk dibagikan secara cuma-cuma, sehingga karya tersebut bisa menjadi pemicu angka popularitas.

Laboratorium (R&D)

Hampir semua skill mensyaratkan beberapa hal/peralatan harus ada ditangan kita, atau akan sangat sulit (bahkan tidak mungkin) untuk mengembangkannya lebih jauh.

Untuk programmer wajib ada komputer (meskipun murahan); Untuk pemain sepakbola, wajib ada bola (meski tak ada lapangan); Untuk fotografer wajib ada kamera (meskipun adanya kamera HP); dsb. Singkatnya, semua skill mensyaratkan orang mempunyai sesuatu yang bisa “dimainkan” berapapun kualitas peralatan yang mereka pakai.

Namun jika skill yang dimaksud ingin kita asah melampaui rata-rata, maka saatnya juga melengkapi laboratorium (peralatan) menjadi lebih lengkap dari biasanya, karena untuk menjadi seseorang yang profesional aku harus punya peralatan yang sebanding profesional juga, seperti: untuk fotografer itu berarti kamera DSLR (+ lensa, tripod, dsb.); Untuk programmer itu berarti komputer tenaga tinggi (anti-lemot); Untuk penulis berarti tempat yang nyaman & tenang (serius).

Meskipun demikian, tetap saja argumen ini harus dipertimbangkan apalagi kalau budget masih tipis. Contohnya seperti laptop saya yang sering macet (terlalu banyak aplikasi). Karena laptop orang tuaku tidak terpakai dirumah, aku punya cara untuk membagi pekerjaan laptop ketiga-tiganya. Hasilnya tak lemot lagi, dan ini jauh lebih bagus daripada beli komputer baru!

IMG20170707092145
Mendaur ulang barang yang kita punya itu jauh lebih baik daripada beli baru!

 

Hal terpenting yang wajib digaris bawahi adalah selalu sediakan lab yang diperlukan. Jika peralatan itu mulai membatasi produktivitas, maka akan lebih bijak kalau meng-upgrade peralatan sewajarnya.

Kelas Belajar (Komunitas)

Dari semua asumsi naif tentang sistem sekolah pada umumnya, ada satu yang hal yang benar-benar kusambut positif, yakni interaksi sosial dalam pembelajarannya.

Mari kita review bagaimana interaksi sosial didalam sekolah bekerja.

Yang pertama, James mengatakan padaku untuk meningkatkan skill melalui interaksi sosial, aku butuh interaksi PLUS, EQUAL, MINUS; atau interaksi antara orang yang lebih pandai, rajin, dan amatir dariku.

PLUS: Interaksi didalam kelas antara siswa dan guru. Siswa secara aktif belajar (dan mendengarkan) kepada guru yang jauh lebih berpengalaman, dan Guru tersebut menyampaikan pelajaran dengan memberi contoh cara menyelesaikan persoalan, atau menjelaskan poin-poin materi (dan pertanyaan siswa) secara panjang lebar, atau mengkritik hasil PR siswa.

NB: Guru yang sukses akan melakukan ketiga model pembelajaran itu sekaligus, dan itu (menurutku) sangat jarang dijumpai.

EQUAL: Interaksi kompetitif, dimana siswa umumnya bersaing untuk menjadi yang terbaik dengan terus melatih kemampuan mereka sendiri-sendiri, atau mereka yang saling berkolaburasi dan belajar sekelompok satu sama lain.

MINUS: Seperti Plus, namun terbalik. Interaksi yang terjadi saat siswa mengajari adik kelasnya suatu hal yang dia tahu/pengalaman, atau pada siswa lain yang paling bodoh diantara satu kelas. Terkadang dia akan dipuji atau mendapat kritik karena interaksi ini (dan itu sangat berharga).

Jika teman sebangkumu sering melakukan tiga interaksi tersebut, maka kau bisa saksikan dia menjadi bintang kelas, secara cepat atau lambat.

Konsep yang aku jelaskan disini menuntutku untuk bergerak secara mandiri, tanpa dorongan orang lain, yang timbal baliknya aku justru akan mendapat sedikit interaksi sosial.

Itu berbahaya, namun aku sadar akan hal itu.

Aku masih belum yakin sepenuhnya, namun jika tujuan dari interaksi sosial itu harus memenuhi PLUS, EQUAL, MINUS, maka aku hanya perlu mengadaptasikannya kembali:

PLUS: Baca. Selalu baca mentor berkelas dunia. Jika aku tahu seseorang mempunyai pengalaman skill yang lebih mendalam maka aku harus cari tahu bagaimana cara mereka melakukan sesuatu atau mengatasi suatu masalah, meskipun itu berarti hanya membaca artikel yang mereka tulis. Aku akan selalu pegang buku referensi/panduan/tips tentang skillku sehingga skill ku tetap bisa berkembang dimana saja.

EQUAL: Aku bergabung dengan komunitas. Aku bergabung dengan club meskipun hanya sebatas forum online. Aku berikan jawaban dan feedback sebatas yang kutahu dengan harapan aku membangun hubungan timbal balik dengan mereka. Atau saat aku melihat karya orang lain maka aku merasa tertantang untuk membuatnya kembali dengan versi yang lebih baik.

MINUS: Segera setelah sebuah projek selesai aku langsung membagikan hasil produknya secara cuma-cuma, dengan harapan agar menarik perhatian sebuah komunitas, atau sengaja ingin dikritik, atau membantu mereka yang mungkin punya masalah yang diselesaikan projek di masa depan.

Interaksi sosial itu penting, namun jika tidak ada orang disekitarku yang berperan andil dalam interaksi PLUS, EQUAL, MINUS maka aku harus mencarinya jalan lain, yakni secara online (dan aku bersyukur internet zaman sekarang sudah mainstream). Namun tetap, menjadi andil dalam komunitas lokal yang ada disekitar itu lebih penting dan berasa daripada online saja. Mempunyai partner untuk mencapai sebuah projek yang sama juga bisa menjadi cambuk untuk meningkatkan skill jauh lebih cepat.

Dengan membangun interaksi sosial untuk skill tertentu, aku membagun skill tersebut ke tingkat yang lebih serius.

Biaya (Timing)

Walaupun ini hanyalah sebatas konsep, namun seperti sekolah umumnya, ada biaya tersembunyi yang harus dibayar setiap waktu saat sebuah skill berkembang.

Tidak seperti sekolah lainnya, selain untuk biaya Lab/R&D, anda tidak dipungut biaya dalam mengikuti konsep ini, namun dengan mengeksekusi konsep ini kita harus membayar satu unsur penting dari sebuah hidup: Waktu

Waktu adalah segalanya. Jika anda yakin kalau anda bisa menguasai sebuah skill dalam setahun berarti anda akan meng-investasikan ~1% dari hidupmu hanya untuk sebuah skill.

Konsep ini mengajarkan bahwa mengasah skill memerlukan anda untuk menjalankan projek secara iteratif dari waktu ke waktu, satu demi satu. Saat aku terbiasa dengan satu projek per hari, maka aku mulai mengeksekusi dua, tiga bahkan lebih projek pada hari yang sama (sehingga suasanaku tidak bakal jenuh)

Hampir semua projek yang ringan bisa diselesaikan dalam sehari (atau ditambah dengan lembur malam). Mungkin kalau lebih serius/besar maka ia butuh sekitar beberapa hari atau bahkan mingguan hingga tuntas selesai. Untuk pemula sangat dianjurkan untuk hanya mengeksekusi projek ringan/singkat sebelum menuju ke tingkat yang lebih serius.

Namun aku yakin kebanyakan pemula (termasuk saya) ingin langsung menuju ke projek yang besar, yang memakan waktu dua bulan bahkan hingga bertahun-tahun, secara solo/mandiri.

Itu baru yang kusebut sebagai orang yang sudah kelewat batas.

Aku dulu menganggapnya sebagai hal yang wajar. Tiga tahun yang lalu (umur 14 gan!) aku membuat sebuah game software, full solo tanpa ada yang membantu selama 6 bulan intensif berturut-turut. Aku membuatnya hingga layak pajang di game-game yang ada di Play store/semacamnya.

 

tothehighestplace
Grafisnya lumayan, tapi gameplay-nya buruk.

Meskipun game tersebut aku pasang ke Amazon (dan gratis!), hingga sekarang masih sepi pengunjung. Gamenya sangat sulit dimainkan (meskipun grafisnya lumayan). Hampir semua waktu dalam 6 bulan kusempatkan hanya untuk desain level/arena (bagian paling repetitif/membosankan) dan semua hal yang hanya orang perfektionist yang mau melakukannya.

Tentu aku belajar banyak hal dari itu, namun tidak sebanding dengan biaya yang harus kubayar: ~0,5% dari waktu paruh hidupku.

Flashback ini mengajariku satu/dua hal: Hindari pekerjaan manual/repetitif (tugas yang sama dikerjakan beberapa kali), atau lempar pekerjaan itu pada robot (buat itu otomatis) atau pada manusia (buat itu menjadi tugas orang lain), atau cari jalan keluar lain yang jauh lebih ringan.

Dan juga, jika aku ingin mengerjakan sebuah projek besar yang juga membutuhkan skill yang tidak aku kuasai, maka harusnya aku mencari partner yang se-ahli dan mempunyai selera/minat yang sama besarnya pada projek tersebut. Meskipun aku sendiri belum pernah merasakan bagaimana rasanya brainstorming bersama dengan seorang partner aku yakin produktivitas kami tentu meningkat berlipat-lipat.

Dari itulah, skill berubah menjadi karir, saat dimana skill anda cukup tinggi untuk menarik perhatian orang lain.

Ijazah (Reward)

Ahh, tentu saja, dengan menjalankan projek demi projek akan membuat skill yang menyangkut lebih terkuasai. Itulah tujuan utama dari konsep ini. Tapi sebenarnya aku punya maksud lebih besar dari itu.

Aku tahu semua orang tidak menolak tentang uang, dan kebanyakan orang ingin mengubah apapun yang mereka lakukan menjadi uang, secepatnya. Konsep ini secara kebetulan menawarkan sebuah kesempatan kepada mereka untuk menjual apapun dari hasil project mereka sendiri.

Uang sayangnya bukan dari bagian dari konsep ini. Jika konsep ini dilakukan dengan maksud mencari income sebesar-besarnya dan bukan karena cinta atas apa yang di lakukan, maka aku yakin mereka itu akan gagal, karena biasanya mereka tidak sabar dan drop jika apa yang mereka ciptakan tidak menghasilkan lebih dari apa yang diharapkan.

Itulah mengapa aku skeptik terhadap sisi negatif dari memonetisasi sebuah hasil project: Untuk membuat sesuatu bernilai jual, aku harus memperhatikan semua aspek, termasuk mendesain, bagian memperfectionist, termasuk juga menambah hal-hal yang kompetitor disekitar lakukan, dsb. semua aspek hingga customer melihat produk/layananku perfect tanpa cacat.

Selain itu, aku juga harus peduli terhadap promosi, marketing, review, support, dsb. Segala aspek yang cukup buat orang yang bermental dangkal keluar dari misi utama mereka, tujuan utama dari konsep ini.

Jika uang benar-benar tidak saya pedulikan maka aku tinggal publikasikan projek itu, tinggalkan dan mulai kembali projek lain. Inilah cara terbaik untuk move on.

Namun tetap saja aku tak bisa menolak, sebagai seorang pelajar solo, aku membutuhkan paling sedikit satu sumber income sebagai motivator, pemantik semangat. Bahkan aku mungkin tidak diperbolehkan oleh orang tua untuk stop kuliah dulu kalau aku tidak punya income apapun hingga sekarang.

Salah satu tonggak sejarah pada Desember 2015 aku memulai sebuah projek yang membutuhkan sekitar satu bulan menyelesaikannya. Karena projek ini sangat unik bahkan tidak ada seorang pun didunia ini pernah menerbitkannya, maka aku langsung berani menjualnya di internet…

Screenshot (467)
Di awal 2016 harganya jauh lebih rendah dari $35.00 (harga saat ini)

… dan tak menduga hasilnya:

revenueMatch
Penjualan setiap bulan naik drastis hingga saat ini.

Dalam beberapa bulan beberapa orang menarik perhatian pada projek ini, dan alhasil aku menyeret pengembangan projek ini hingga sekarang. Dan saat ini aku telah membalas kepada +100 email customer dengan omset tembus hingga ribuan dollar.

Aku akui 2016 adalah tahun tonggak bersejarah bagiku, namun itu tak berarti aku terhenti disana. Aku saat ini sedang mengarahkan fokus kedalam projek baru, topik yang baru (skill tetap sama). Memang sangat sulit untuk melangkah jauh sesaat sumber income pertama turun dari langit, namun tiket menuju kesuksesan bagiku itu mempunyai sumber income ganda dan menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Di akhir nanti, aku tak tahu apa ijazah yang kuterima dari konsep ini. Namun jika aku lulus maka kondisiku itu seperti sebuah mimpi menjadi kenyataan, dan mempunyai karir yang absolut 100% persis yang seperti aku dambakan.

 

Kesimpulan (Takeaway)

Ini kata-kata kunci yang wajib dicatat:

“Pilih sebuah skill, kembangkan melalui projek, kecil-kecil hingga solid beberapa minggu, usahakan untuk menghindari keinginan menjual hingga skill benar-benar matang, lalu carilah komunitas & popularitas, buat dirimu mempunyai nilai jual dengan projek lebih besar & berguna, lalu carilah partner, pindah lagi ke project yang lebih besar, dimana kamu akan bekerja dengan karir yang persis kamu inginkan.”

Inilah caraku untuk belajar dengan diri sendiri. Inilah prediksiku bagaimana hidupku berjalan kedepan.

Dari puisi berbait +3000 kata diatas, aku belum yakin konsep ini bisa diadaptasikan dengan skill lain, bahkan aku belum tahu kalau konsep ini memang benar-benar berfungsi padaku atau tidak.

Paling tidak kamu sudah mendapatkan idenya. Aku sudah menjelaskannya secara panjang lebar. Ada alasan mengapa aku ingin membagikan tulisan ini secara cuma-cuma, bukan hanya untukmu, tapi untukku juga.

Meskipun kritik saya tentang sistem pendidikan didunia terlalu skeptik, aku tidak ingin kamu memprovokasi/merubah sistem pendidikan sekarang ini. Malahan, aku ingin kau tetap mempertahankan dirimu menempuh jenjang pendidikan setinggi-tingginya meskipun sistem ujian mereka masih tidak relevan. Paling tidak kamu tahu bedanya menjawab antara diatas kertas, dengan mengarahkannya menjadi sebuah projek.

Iklan

6 respons untuk ‘>10: Universify Yourself

Add yours

  1. Mungkin ‘program’ ini bisa berhasil diterapkan ke orang-orang yg sudah menemukan ‘dirinya’
    Sayangnya aku masih labil dan belum menemukan ‘diriku’ (skill, bakat, passion, or whatever it is)
    Dan masih berjuang utk menemukannya x-x
    Tapi pesan dari artikel ini bisa ngena ke semua orang
    Nice and inspiring article, as always

    Suka

    1. Iya mbak. Makasih buat apresiasinya.
      Memang susah kalau masih belum tahu passion sendiri, dan setiap orang pasti bakal berbeda asal atau caranya; mungkin karena kebiasaan, pekerjaan, perkuliahan, budaya, teman, sahabat, rekan, tong sampah (eh?)

      Cepat atau lambat insyaallah akan ketemu. Moga sukses perjuangannya!

      Suka

      1. Eh tapi-tapi btw passion bisa berubah sesuai sama apa yg kita tekuni, bukan?
        wkwkw bener banget, dek. entah rasanya masih susah menemukan aku yg sebenarnya, kaya ngorek2 tong sampah buat nyari pulpen yg ilang gitu (paansi)
        thanks anyway
        Semoga sukses di bidangmu dek, ditunggu artikel2 inspiratif berikutnya krn artikelmu sangat membantu sekali (esp. buat aku yg males menggali pesan-pesan tersembunyi dr apa yg sudah aku baca, jadi baca ya baca aja udah, gak ngena banget) *lah malah curhat dia

        Suka

      2. Wkwkw bener sih
        Tapi kecenderungan meninggalkan hal2 yg lama ditekuni itu aku banget
        Apa aku yg labil?
        Btw ini komentar jadi kaya komentar facebook ya dek :3

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: