Multitask vs. Singletask

Selama tiga tahun terakhir, aku selalu menyediakan beberapa projek sekaligus didepan mata.

Hampir setiap waktu, ada 2, 3, bahkan empat projek yang aku eksekusi secara bersamaan, berpikir kalau jika salah satu projek nyendat atau kehabisan akal atau mood, aku bisa berganti sepuasnya, secara langsung kembali produktif seperti semula.

Namun cara ini terkadang memforsir laptopku yang sangat terbatas. Bayangkan saja tiga aplikasi raksasa yang harus on selama 24 jam. Bagaimana mungkin laptopku tidak mau menjerit? Satu aplikasi macet, maka aku pindah projek, eh. malah ikut-ikutan macet pula.

Frustasi tersebut muncul karena keterbatasan performa laptop sehingga kerap mengharuskanku membersihkan laptop, malah buka-lalu-tutup aplikasi bolak-balik. Aku berkata padaku kalau aku terus begini maka aku tak akan produktif, sehingga daripada susah-susah menunggu beli baru, aku gunakan saja dua tiga laptop lagi yang sedang menganggur di rumah.

IMG20170707092145
Me. My Dad. My Mom. 3 laptop menganggur menyatu di satu kamar.

Memang, dalam beberapa hari berikutnya aku merasa lebih produktif karena beban laptop berkurang drastis, tak akan lemot lagi. Namun beberapa minggu kemudian, aku merasa diriku sendirilah yang mulai melambat…


Aku sudah lama mendengar tentang bahaya multitasking, atau melakukan dua pekerjaan di waktu yang sama. Hanya saja aku ngotot multitasking adalah yang terbaik untukku, hanya saja caranya berbeda:

Multitask bukan sekedar sebuah istilah, namun sudah menjadi kebiasaan dimana-mana: Membaca artikel sambil sarapan, Menikmati musik sambil mengerjakan tugas, Mencari referensi/browsing sambil membuka sosial media, chatting sambil menonton film, membaca buku sambil merapikan rumah, melihat pemandangan sejuk dilangit sambil menyapu latar depan, atau bahkan mencari inspirasi sambil membersihkan diri di kamar mandi. Banyak sekian contoh lain dan aku yakin bahwa tak ada orang yang belum pernah tahu manfaatnya “mengerjakan ini sambil mengerjakan itu”.

Sebaliknya, Singletask, membiasakan untuk melakukan satu-per-satu pekerjaan justru merupakan tantangan besar: salah satunya menjaga fokus dan mood (perasaan atau gairah) tetap pada puncaknya.

Fokus bisa terguncang karena ada suatu hal lain yang lebih menarik perhatian. Entah dari telepon yang berdering hingga suara adzan yang berkumandang. Menjaga fokus itu sangat sulit bahkan J.K. Rowling saja menyewa kamar hotel bintang lima hanya untuk menyelesaikan seri terakhir Harry Potter dengan tenang.

Satu kejadian saat aku kehilangan fokus: aku tidak tahu X sehingga aku butuh internet mencari Y, dan setelah selesai aku melihat artikel Z menarik perhatianku, kemudian A, B, C… habislah waktu karena internet yang harus menyala.

Mood juga berpengaruh besar, apalagi pada fokus. Merasa bosan mood akan hilang. Fokus hilang mood juga akan hilang. Aplikasi macet (maupun cuma satu detik) membuat mood saya hilang. Kesulitan mengerjakan sesuatu juga sering membuat moodku berubah. Gagal terus juga membuat mood berguncang.

Saat mood hilang, aku kehilangan niat untuk mengerjakannya. Terkadang juga saking malasnya sampai aku break dulu. Bagiku itu masih mudah menjaga fokus namun tidak dengan mood. Jika mood hilang namun tetap dipaksakan, maka aku seperti mondar-mandirin di bundaran seperti orang kebingunan.

Karena itulah, aku sering kali membuka banyak projek diwaktu bersamaan. Saat satu selesai, aku tak menutupnya dan langsung beranjak ke software berikutnya. Aku tahu memang ada sedikit waktu terbuang untuk beralih fokus ke prjek projek, namun menurutku itu lebih penting daripada kehilangan niat, sehingga aku tetap sibuk mengerjakan pekerjaan tertentu hingga tuntas, dengan mood yang optimal.

Aku menyebutnya sistem Hybrid/Semi-multitask. Sistem ini membuatku sibuk dengan melakukan banyak projek sekaligus dalam sehari.

Screenshot (71).jpg
Back in the day saat Multitask is everything…

Namun itu dulu, dan aku kira sistem semacam itu OK untukku, hingga aku menyadari sesuatu…….


Sekarang pilih yang mana: Menyicil buku bacaan selama 2 jam setiap hari atau full satu hari siang dan malam?

Jika kita mengandaikan waktu adalah uang maka tentu kamu tahu bedanya antara bayar dicicil dengan bayar dimuka. Inilah mengapa aku yakin 95% diantara para pembaca setia saya lebih memilih menyicil buku karena memang sangat sulit membaca buku sekaligus siang dan malam, atau karena kendala pekerjaan.

Percaya atau tidak, aku baru saja mencobanya. Sebuah novel yang baru aku pinjam di perpustakaan berisi 300+ halaman kubaca mulai petang, hingga pagi, hingga malam lagi. Memang menyakitkan kalau siang dan malam terpaku didepan buku namun aku juga tak menyangka bisa menghabiskan novel secepat itu.

Kuulangi lagi: menjaga mood itu sulit; kalau saja topik novel itu kurang menarik mungkin aku sudah tidak sanggup melakukannya. Begitu pula dengan fokus; sering kali aku mundur beberapa kalimat karena gagal paham dan kurang fokus.

Namun dari itu semua, ada akibat baliknya, yakni aku bisa membaca novel tuntas dalam 2 hari, DUA HARI! Kebanyang gak rasanya habisin 15 buku dalam sebulan?!

Bahkan kalau aku hanya menargetkan satu buku dalam satu minggu, itu berarti tersisa 5 hari penuh untuk melakukan hal lain. 5 hari penuh itulah yang bikin aku demen, karena itu jauh lebih baik daripada kehilangan 3 jam disetiap hari hanya demi membaca buku.

Dan karena itu pula, aku ingin merubah caraku bekerja. Jika aku punya lebih dari satu projek, maka aku:

  1. Menyiapkan kertas dan pulpen
  2. Menulis satu per satu projek itu
  3. Mencoret semua projek kecuali satu yang paling atas.

Ini berarti aku harus memfokuskan tenaga pada satu projek, dan tak boleh berpindah sampai projek itu benar-benar selesai, atau siap menjadi sebuah publikasi atau produk pasaran.

Akankah cara ini meningkatkan produktivitasku? Aku tak tahu, namun sudah tiga tahun dan selama ini hanya selusin projek yang mampu lolos publikasi, padahal berpikir aku bisa melakukan lebih dari itu. Dan tidak, aku tidak menemukan satupun top leader didunia mengandalkan multitasking, bahkan Elon Musk tak berpindah kantor dihari yang sama meskipun dia memegang lebih dari satu CEO perusahaan global.


Tak cukup di situ saja, aku juga mempratekkannya di artikel ini. Malam selasa aku ketik tuntas artikel ini. Singletask, tanpa musik, suasana sepi, mengusahakan otakku untuk 100% fokus pada proses menulis.

Keesokannya, aku merubah stage menjadi editor untuk draft ini, bagian yang paling seru dalam menulis. Sebagai reward, aku nyalakan musik favorit sambil meng-edit draft ini. Ah, tentu saja multitasking dengan musik memang melegakan bukan? maksudku, kubuat santai saja, karena aku tak perlu 100% fokus saat meng-edit draft.

Screenshot (493)
Album favorit, juga cocok untuk timer saat editing. (dan #RIPChester)

“Work Smarter, Not Harder”

Iklan

2 respons untuk ‘Multitask vs. Singletask

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: